Thursday, May 16, 2013

Mama

Tak ada yang ingin kuharapkan lagi, kecupan mamah di pipi kanan dan kiriku setiap pagi sudah cukup memberiku harapan. Laki-laki yang selama ini ada dihidupku, sudah cukup memberi berjuta pengalaman. Menjalani hidup bersama laki-laki yang kita sayangi memang sangat membahagiakan, tapi saat hubungan itu berakhir hanya perih dan sakit yang menemani. Tuhan tak pernah salah, Dia selalu adil pada hambanya. Itulah yang selalu aku tanamkan dalam lubuk hatiku. Aku juga meyakini cinta sejatiku akan datang suatu saat nanti. Aku tak perlu mencari, aku tak perlu bersedih. Semua akan datang tepat pada waktunya, Tuhan pasti sedang menyiapkan seseorang untukku, ya .. PASTI . Diusiaku 17 tahun, tentu cinta tak terlalu kubutuhkan. Persis seperti kata Papahku setiap pagi saat mengantarku kesekolah.
Tuhan juga tak pernah terlambat, 1 detikpun atau terburu-buru. Seperti janji matahari pada pagi hari.
Kini aku akan tetap berdiri walau disampingku berjuta cobaan membuatku terjatuh dan terbangun lagi. Semua tak akan kupermasalahkan , aku harus berfikir dewasa, tak hanya dewasa dalam pemikiranm tetapi juga dewasa dalam semua tindakankku. Semua ini karena mamahku, kekuatanku, kesabaranku menghadapi detik detik yang akan datang, yang tak pernah ku tahu akan membawaku kemana? terima kasih Tuhan , kau telah menciptakan seoran
g mamah sepertinya untukku :)  

Friday, May 10, 2013


BOLEHKAH AKU MEMINTA SATU DETIK SAJA?
By : EL's


“aku belum ada waktu , Pipit !”
Terdengar suara Satria sedikit berteriak dari seberang telephone.
“iya, aku ngerti’in kamu kok !” senyum getir keluar dari bibir mungil pipit. Hatinya terasa perih dan perih sekali.
Pipit ,dia adalah seorang gadis perempuan berusia 17 tahun, seusia saat ini memang sedang bahagianya merasakan apa itu cinta. Sebuah kata-kata yang sangat sulit untuk dimengerti , sulit untuk diungkapkan, bentuknya pun hanya dilukiskan melalui sebuah jambu merah yang sulit juga dipahami.
Begitupun perasaannya kepada Satria , seorang pemuda tampan yang memiliki segudang hobi, hingga satu detik pun tak sempat ia luangkan untuk kekasihnya. Perasaannya pada kekasihnya itu juga tak dapat dimengerti , dan tak dapat dijelaskan. Cinta memang tak butuh pengertian dan penjelasan bukan? cinta hanya membutuhkan sebuah ketulusan.
“aku selalu sabar buat kamu, Satria” bisik Pipit dalam hati, rasanya hanya sekedar berucap saja sulit. Apa lagi sampai berlari-lari mengejar Satria yang saat ini mungkin sedang latihan silat, latihan gitar, dan semua rutinitas sehari-harinya. Dia sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa memperdulikan kekasihnya lagi, yang saat ini sedang terbaring lemah dikamar tidurnya.
“minum obatnya dulu sayang!” mamah Pipit menghampirinya sambil membawa segelas air dan beberapa butir obat yang harus Pipit minum. 
“mah…pipit pengen cepet sembuh, biar bisa pergi kedanau sama Satria lagi!” dia berkata sambil memandang langit-langit menerawang jauh , mengingat semua kejadian saat Satria selalu meluangkan sedikit waktunya hanya untuk sekedar memberi senyum pada Pipit.
“iya…mamah yakin, Pipit pasti sembuh” belaian lembut mamahnya sore itu seakan mengurai semua sakit yang sedang Pipit rasakan dan lenyap begitu saja.
Satu dua tiga hari berlalu, keadaan Pipit semakin parah, hingga akhirnya dia dilarikan kesebuah rumah sakit terdekat dikotanya. Pipit memang sering sekali keluar masuk Rumah Sakit 2 tahun belakangan ini. Tetapi dia tak pernah memberi tahu Satria, dia tak ingin Satria merasakan beban yang dia alami. Pipit juga tak ingin Satria kasihan padanya.
“maaf, aku kemaren keluar kota, dan disana susah sinyalnya, jadi gak bisa menghubungi kamu”
Alasann itu yang selalu Pipit berikan untuk kekasihnya itu, padahal sesungguhnya dia tidak memberi kabar karena tangannya terlalu lemah untuk memegang handphone. Namun Satria tak pernah menghiraukannya.
Hingga suatu hari saat Pipit dirawat dan tidak memberi kabar, Satria diam-diam pergi kerumahnya. Semua penghuni rumah Pipit sedang berada di Rumah Sakit, menemani satu-satunya bidadari kecil yang ada dirumah itu yang saat ini sedang terbaring lemah dengan selang oksigen dihidungnya.
“maaf buk, mau tanya? Keluarga mbak Pipit pada kemana ya?” Satria memberanikan diri untuk bertanya pada tetangga sebelah rumah Pipit.
“maaf mas, saya kurang tahu, tapi akhir-akhir ini rumahnya sering kosong”
Satria dapat melihat rumah yang kosong itu dari bunga-bunga didepan rumah yang layu dan tidak terwat lagi. Dulu saat Satria pergi kerumah Pipit, mamahnya selalu sibuk merawat bunga-bunga itu. Tetapi saat ini ada bunga yang lebih penting untuk dirawat dan dijaga ketimbang semua bunga yang ada didepan rumah Pipit.
Satria mencoba menghubunginya beberapa kali hingga akhirnya terdengar suara halus yang mulai renta.
            “Wa’alaikumsalam mas Satria, ini mamahnya Pipit, ada apa?” suara mamah Pipit dari seberang sana.
“mah..pipitnya ada ?” Satria yang sudah akrab dengan keluarganya mencoba menanyakan Pipit.
“Pipitnya lgi istirahat, mas”
“ya sudah bu, titip salam aja buat Pipit” .
Begitu pembicaraan itu ditutup Satria terus bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada kekasihnya itu. Hingga dia tak sempat memberi kabar padanya.
“Satria…. boleh gak aku minta satu detik aja waktu kamu ! aku pengen ke danau.” Suara pipit yang masih lemas, langsung dibalas dengan kemarahan Satria.
“kamu kemana aja kemaren ? aku kerumah kamu, kamu gak ada! Ak telephone kamu malah mamah kamu yang angkat! Aku gak punya waktu, aku lagi sibuk !”
Seketika telephone itu terputus, seketika juga air mata Pipit mengalir dipipinya. Walaupun dia sedang sakit , dia tetap terlihat cantik, dengan rambut hitam yang panjang, wajahnya yang putih bersih dan tangannya yang lembut bak seorang permaisuri kerajaan besar. Sungguh betapa beruntungnya Satria memiliki kekasih secantik itu, sedang diluar sana masih banyak lelaki yang mendambakan Pipit.  Tetapi hal itu tak pernah dipikirkan Satria.
“Pipit …kenapa menangis sayang?”
“Pipit pengen ke danau mah!” pelukan hangat mamahnya seketika membuat danau buatan yang terindah melebihi danau yang sering Pipit kunjungi bersama Satria.
“Pipit kan baru aja sembuh, besok ya sayang,kalau udah bener-bener sembuh kita kedanau ya sama papah juga dan sama Satria juga.” Pipit mengangguk dalam pelukan mamahnya.
“tapi mah, Satria udah gakpunya waktu lagi buat Pipit!” suaranya sedikit terbata-bata.
“ya…nanti pasti ada kok, Pipit harus sabar ya, mungkin Satria lagi sibuk” . itulah yang selalu menguatkan Pipit, mamahnya yang selalu mengajarkan arti kesabaran dan ketulusan padanya.
Hingga suatu malam, Pipit tiba-tiba kejang, seluruh badananya biru dan dingin. Mamah dan Papahnya kebingungan , menangis melihat bidadari kecilnya seperti itu. Suara sirine ambulance membawa Pipit ke ruang gawat darurat. Mamah dan Papah Pipit masih mengenakan piyama, tanpa sadar mereka tidak mengenakan alas kaki. Maklum saja, jam dinding masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
“Maaf sekali pak, bu, anak anda tidak bisa tertolong lagi” kata seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
Mamah dan Papah Pipit tak mampu berkata-kata lagi, suluruh lorong ruangan itu ikut berduka mengantarka Pipit pulang ke rumah Tuhan. Seketika lorongan itu juga riuh oleh suara tangisan mamah Pipit yang sangan menyayat hati. Memanggil-manggil bidadari kecilnya yang kini sudah tak bernyawa lagi.
Selembar kain putih menututupi muka Pipit yang masih terlihat cantik, malam itu semua berduka. Mungkin danau yang sering dikunjungi Pipit sudah berubah menjadi lautan, melihat seseorang yang selalu mengunjunginya tak akan pernah mengunjunginya lagi. Seakan akan langit juga terharu melihat kepergian seorang permaisuri cantik yang begitu mulia. Hujan deras, petir dan kilat turut mengantarnya kembali.  
Beberapa bulan kemudian saat Satria sudah tidak bisa menghubunginya lagi, dia datang kerumah Pipit.
Sore itu , terlihat mamah Pipit sedang sibuk merawat bunga didepan rumahnya.
“Mah..pipit ada?”
Mamah Pipit yang terkejut dengan kehadiran Satria mendongok terbengng-bengong.
“duduk dulu sayang…” ajak mamah Pipit.
Rasanya seperti menusukkan pedang kedalam hati, perih dan sakit. Membuka semua luka yang sudah mulai terpendam.
“Satria, maafkan mamah gak cerita sama kamu, mamah juga belum sempat memberi tahu kamu, Pipit sudah meninggal 2 bulan yang lalu” tetes demi tetes air mata mamah Pipit mulai mengalir.  Rasanya terlalu pahit melihat bidadarinya harus pergi secepat itu. Seandainya boleh diwakilkan, maka Mamah Pipit akan menggantikannya. Pipit terlalu singkat merasakan apa itu arti cinta dan ketulusan, sedang bagi Mamahnya semua itu sudah tak penting lagi
Satria yang ada didepannya, hanya terdiam , berlari jauh ingin menemukan kekasih hatinya yang sekarang sudah tak akan lagi dia temukan , walau disudut dunia manapun.
“Mah…..” Satria bersimpuh didepan Mamah Pipit yang sedang terus menegarkan hati menerima semua kenyataan. Satria menggenggam tangan Mamah Pipit  memeluk hangat seorang wanita yang saat ini kehilngan harta yang peling berharga baginya. Bukan hanya sekedar bunga yang snagat berharga, tetapi separuh nyawanya.
“Pit…kenapa kamu pergi sebelum aku memberimu satu detik saja, Tuhan berikan aku satu detik saja, untuk sekedar memeluk dan mencium keningnya untuk yang terakhir kali”
Air mata yang keluar darinya seakan sudah terlambat, satu detik itu telah terlewat dan tak pernah kembali lagi.

Thursday, April 25, 2013

Manfaat Memakai Jilbab

Manfaat Memakai Jilbab
  
    Jilbab adalah barang wajib yang harus dikenakan oleh seorang wanita muslimah . Dengan mengenakan jilbab seorang wanita akan terlihat cantik dan anggun serta terlihat sopan. menurut beberapa penelitian banyak manfaat yang didapat dari mengenakan jilbab , diantaranya :



1. Terlindung dari sinar matahari
Jilbab melindungi kulit kita dari sinar matahari langsung. Apalagi saat ini,matahari yang mengenai kulit langsung dapat membuat kulit terbakar dan menimbulkan flek-flek hitam di wajah .
2. Rambut lebih sehat
Rambut kita terlindung dari debu, sinar UV dan polusi, sehingga batang rambut lebih terjaga kesehatan dan kebersihannya. Interaksi rambut langsung dengan dunia luar bisa membuat warna dan kemilau rambut jadi kusam. Walau rambut cukup terlindungi dengan menggunakan hijab, tetap diimbangi dengan perawatan ya benar.
3. Lebih tahan terhadap penyakit
Kebiasaan menggunakan hijab akan menjadikan kita pribadi yang lebih telaten dan senantiasa menjaga kebersihan. Hal ini secara tidak langsung menjaga imunitas tubuh kita. Karena kebiasaan kita menjaga kebersihan dan tubuh yang terlindung dari kontak fisik secara langsung, membuat kita jauh dari virus-virus penyakit.
4. Lebih tenang
Menggunakan hijab tidak hanya mempengaruhi kesehatan dan kecantikan tubuh, tapi juga pikiran. Hal ini karena adanya pengaruh antara tindakan nyata dengan pola pikir pengguna jilbab. Sebagaimana jilbab merupakan pakaian yang diwajibkan dalam spiritual Islam, maka pakaian ini bisa menenangkan batin dan membahagiakan penggunanya.
Nah, itulah beberapa manfaat dalam menggunakan hijab. Tidak hanya membuat cantik dan sehat, tapi juga membuat hidup lebih bahagia.
  
5. Membuat kita lebih mahal
Dengan mengenakan jilbab kita akan lebih dihargai orang lain, lelaki yang akan mendekati kitapun sungkan jika dia tidak beerperilaku baik terhada kita. Jilbab juga menjadi sebuah identitas wanita muslim.

Nah, itu tadi beberapa keuntungan yang kita dapat dari menggunakan jilbab, so, jangan pernah ragu untuk menutup auratmu. Untuk yang sudah memakai, tetap pertahankan :). Semoga ALLAH SWT selalu memberi ridhaNya. Aminnn...

cerpen



Candle Light Dinner
By : EL's 
   “Sa, pleaseee…. Jangan putusin gue. Gue masih sayang sama lo Sa…,” mohon Candra.
   Aku diam.
   “Kesa….” Candra mengelus rambutku.
   “Tapi….”
   Candra buru – buru memotong kata – kataku. “Sa, gue tuh masih sayang sama lo,” Candra mencoba meyakinkanku. Dia lalu mencium keningku. “Kamu mau kan maafin aku?” tanyanya penuh harap.
   Aku pun akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Sangat terpaksa.
   Jujur sebenernya aku tuh udah bosen sama Candra. Sifatnya kadang childish banget. Males banget kan punya cowok kayak gitu. Dan kita tuh nggak nyambung. Nggak ada kecocokan di antara kita.
#   #   #
   Sehari setelah peristiwa itu kita ngejalanin hari – hari seperti biasannya. Kita kayak nganggap peristiwa malam itu nggak pernah terjadi.
   Hari ini aku sama Candra rencananya mau hangout.
   Setelah lelah muter – muter kita lalu duduk di jalanan sekitar Taman Kota yang suasananya lumayan nyaman. Tempatnya rindang dan not bad deh.
Di situ kita curhat – curhatan dan saling cerita tentang apa aja. Hari ini aku seneng banget. Semuanya karena Candra.
#   #   #



   “Sa, aku pengen ngomong something.”
   “Ngomong apaan sih?” tanyaku keki, aku baru aja bangun dari tidur siang.
   Dengan mata masih keliatan ngantuk aku akhirnya menemui Candra dengan setengah hati. Tadi bunda membangunkan tidur siangku dengan paksa dan tiba – tiba aja aku di suruh nemuin Candra yang udah duduk manis di sofa ruang tamu.
   “Sa, jalan yuk. Aku pengen ngomong sama kamu.”
   “Ngomong ya ngomong aja. Emang dari tadi kamu nggak ngomong?”
   “Bukan gitu Sa maksudnya. Aku mau kita ngobrol di luar. Lagian ini kan malam minggu,” rayunya.
   “Iya…iya. Bawel lo!” tukaskusaat ngeliat Candra udah mau ngomong lagi.
#   #   #
   45 menit udah berlalu, sekarang aku sama Candra sedang ada di sebuah Café yang romantiiiis banget. Cahaya di café tersebut nggak begitu terang. Di meja terdapat beberapa lilin. Semacam Candle light dinner gitu deh. Cewek mana coba yang nggak seneng diajakin cowoknya candle light dinner??
   Sebelum memulai bicara, Candra memegang tanganku dan menggenggamnya.
   “Kesa, maafin aku ya?”
   Maaf?? Aku bingung deh. Kata maaf bagiku untuk saat ini kayaknya nggak tepat. Aku malah lagi berbunga – bunga karena malam minggu ini di ajak candle light dinner.
   Ini adalah candle light dinner ke-2 buat aku sama Candra. Candle light dinner pertama waktu dia nembak aku, sebulan yang lalu.
   Yups! Usia pacaran kita udah sebulan. Kalau mau jujur sebenarnya dalam sebulan itu masa – masa pacaran kita di warnai dengan kata ‘putus – nyambung’. Dan tak jarang juga setelah aku gucapin kata putus, beberapa jam sesudahnya Candra memohon – mohon ngajak balik.
   Karena aku kasihan sama dia dan kayaknya Candra emang masih sayang sama aku, aku pun nerima dia balik. Perbedaan pendapat sering menjadi penyebab konflik di antara kita.
   “Sa, kayaknya aku nggak bisa ngelanjutin hubungan kita.”
   Aku mendongakkan keplaku yang sedari tadi menunduk. Aku bengong. Aku bingung.
   “Sa, kita……” Candra keliatan bingung buat merangkai kata – kata.
   Aku buru – buru menarik tanganku dari genggaman tangan Candra. Aku udah tahu maksud dari kata – katanya.
   Air mataku meleleh satu persatu sebelum kemudian mengalir dengan derasnya.
   Candra menghapus air mataku dengan ibu jarinya, tapi aku dengan cepat menepis tangannya.
   “Sa…”
   “Aku pengen pulang,” kataku di sela isak tangis. Suaraku terdengar parau.
#   #   #
   Dalam perjalanan pulang di mobil kita saling diam. Yang terdengar hanya isak tangisku yang makin lama makin keras.
   Aku nggak nyangka Candra tega sama aku. Belum ada seminggu dia merengek – rengek minta balik. Tapi, malam ini… aku telah menangis di buatnya.
   Yang lebih menyedihkan, Candra mutusin aku saat kita Candle light dinner. Aku baru ngerti, ternyata candle light dinner nggak melulu romantis dan nggak seromantis apa yang di bayangkan orang kebanyakan.
   Aarrgghh!!!!
   Aku pengen teriak! Aku pengen marah!
   Begitu mobil Candra berhenti di depan rumahku, aku segera turun dan membanting pintu mobil kemudian berlari masuk kamar.

Saturday, April 20, 2013

Cerpen



When Your Face in My Eyes
 By : EL's
            Satria, you deserb better. Thanks for everything. Kita putus!” kataku setelah membisu sekian menit.Satria seperti tak percaya mendengar kata – kataku barusan.
Vit, tapi ?” katanya minta penjelasan.
Aku menggeleng. Pikiranku jauh melayang, apa yang telah aku lakukan ?
 “Aku pengen pulang,” kataku.
            Di perjalanan pulang kita saling membisu. Aku sudah lega akhirnya kata putus berani ku ucapkan. Sedangkan Satria, dia hanya diam karena mungkin takme nyangka kalau kalimat itu akan keluar dari mulutku.
            Seperti biasa, Satria mengantarku sampai ke depan pintu. Tapi kali ini tanpa cium tangan. Satria sebenernya tadi mau melakukan itu, tapi aku menolaknya.
            “Kita udah putus,” jelasku.
            Satria Nampak kecewa.
#  #  #
            Satria sangat terpukul sejak kandasnya hubungan kita. Kata temen – temennya sekarang Satria jadi sensi dan agak pendiem. Aku merasa bersalah sebenernya sudah membuat dia seperti itu, tapi harus gimana lagi.
            Perasaanku sudah bukan buat Satria lagi, melainkan buat Dika. Cowok yang sudah berhasil merebut hatiku.
            Walaupun saat pertama mengenalnya, aku sudah nggak jomblo lagi, tapi rupannya dia nggak pantang menyerah begitu saja. Berkat kerja kerasnya, aku memberikan perasaanku pada Dika. Aku cinta Dika.
            Aku berharap dengan berakhirnyanya hubungan dengan Satria, aku bisa secepatnya jadian sama Dika karena sebenarnya saat aku masih bersama Satria, Dika sudah pernah nenyatakan perasaannya padaaku
#  #  #
            “Kita putus bukan berarti jadi musuh kan?” kataku saat Satria duduk didepanku.
            Satria mengangguk setuju. “Berarti walau pun udah putus, aku tetep boleh main kesini kan?”­­­­
            “Pintu  rumah
ku bakalan selalu terbuka buat kamu,” hiburku.
            Kalau mau jujur sebenarnya aku masih ada rasa sama Satria, tapi itu hanya sedikit dan selebihnya buat Dika. Mejalani hari – hari bersama Satria selama Sembilan bulan lebih tiga minggu cukup bagiku.
            “Aku perhatiin kamu akhir – akhir ini jadi pendiem deh.”
            “Aku masih sayang sama kamu Vit,” potong Satria cepat. 
            Huhhh….. aku mengambil nafas panjang. Aku udah nyakitin perasaan orang lain. Orang yang sayang banget sama aku.
            “Aku juga sebenernya masih sayang banget sama kamu, tapi untuk saat ini aku pengen sendiri dulu,” dustaku.
             Satria diam.
            “Satria di luar sana, ku rasa masih banyak cewek yang lebih dari aku. Kamu jangan kayak gini lagi ya?” mohonku.
            Pelan – pelan kepala Satria mengangguk. “Tapi, kamu masih jadi temen aku kan?”
            “Pasti,” jawabku pendek.
#   #   #
            Aku berjalan sambil sesekali kakiku menendang batu – batu kecil yang terhampar di jalanan berbatu menuju rumahku. Aku membayangkan anadai batu – batu itu adalah mukanya Dika. Benci banget aku sama dia.
            Aku menggelengkan kepalaku dengan keras. “Nggak!!” jeritku. Sedih sekali bila aku meninggat saat – saat sebelum aku dan Dika jadian.
            Siapa yang nyangka bahwa semua yang ada di mulutnya adalah bohong belaka. Sakiiitt banget bila ingat itu. Setelah putus sama Satria aku berharap segera jadian sama Dika dan menjalani  hari – hariku dengan dia , tapi kenyataanya????? NOPE!! Dika justru menjauh setelah aku mengibarkan bendera jomblo.
Dan hari ini Clara ngomong sama aku katanya Dika selama ini cuman nyenengin aku.
           
Sulit sebenarnya harus menerima kenyataan ini, tapi mau gimana lagi? Aku udah dimainin  sama Dika. Aku nggak hanya kehilangan Dika, tapi juga Satria, orang yang sebenarnya masih aku sayang, namun terpaksa aku memutuskannya demi Dika yang ternyata selama ini cuma mau mempermainkanku.
            Aaaah, aku tiba – tiba jadi merasa kangen sama Satria. Sama kasih sayang dan cintanya yang tulus buat aku.
            I still loving you Satria………..
#   #   #
            Sore ini aku udah dandan dan hmm… wangi tentunya. Satria akan ke rumahku buat ngembaliin buku catatanku.
            Aku mendengar bel pintu depan di pencet oleh seseorang. Setelah mereview penampilanku di cermin, aku membuka pintu.
            Sss..Satria…”ucapku terbata. Aku yang tadinya riang menjadi  agak terkejut.
            “Vita, kenalin ….. ini Dizka, cewek aku,” tutur Satria.
            Aku memandang cewek di samping Satria lalu senyum kepadanya. Senyum di paksakan tepatnya. Aku mempersilahkan mereka masuk dengan hati hancur. Satria ku udah jadi milik orang lain.
            Aku hanya menunduk terdiam saat mereka duduk di depanku,  oh Tuhan, inikan balasan untukku yang telah menyia-nyiakan Satria. Padahal aku tahu bahwa Satria sangat menyayangiku. Inikah balasan untukku yang hanya mengejar sinar yang berkilauan tanpa ku tahu bahwa itu hanya semu. Aku tak bisa membendung air mataku. Aku berpamitan dengan mereka berdua.
“aku kebelakang dulu ya” aku menyela mereka berdua.
Seketika aku berlari ke kamarku dan ku keluarkan semua tangisanku yang sejenak ku tahan. Aku tak mau berfikir apa yang sedang mereka lakukan. Yang ada di fikiranku aku sangatlah bodoh.
Tiba-tiba ada sesosok tangan yang membelai kepalaku.
“kamu kenapa Vit ?” aku sangat mengenal suara itu.
“Satria ? kamu ngapain disini ? e..ee...e.. aku nggak kenapa-kenapa kok, tadi mataku kena debu aja” aku sangat terkejut, aku berusaha menutupi semuanya. Aku tak ingin Satria tahu, lebih-lebih disampingnya sudah ada wanita yang saat ini menjadi kekasih Satria.
“Kamu gak perlu bohong sama aku, aku udah tahu semua, aku tahu dari temen-temen kamu, dari Dika juga, dan mamah kamu yang tiap malam telephone aku , marah-marah udah bikin kamu nangis malam-malam”. Satria memberi penjelasans sambil menggenggam tanganku.
“tapi ??? sekarang?? Kamu ??” aku masih terus menahan air mataku.
“maafin aku ya Vit, itu kakak sepupu aku, aku sengaja kayak gini , karena aku pengen tahu apakah kamu masih sayang sama aku atau gak?”
Aku tak mampu berkata-kata , tangiskupun semakin menjadi jadi. Pelukan Satria membuatku tak akan pernah lagi meninggalkannya.
“Maafin aku!” kataku lirih.
“Iya, aku selalu sayang sama kamu Vit” .