BOLEHKAH AKU MEMINTA SATU DETIK SAJA?
By : EL's
“aku belum ada waktu , Pipit !”
Terdengar suara Satria
sedikit berteriak dari seberang telephone.
“iya, aku ngerti’in kamu kok !” senyum getir keluar dari bibir mungil
pipit. Hatinya terasa perih dan perih sekali.
Pipit ,dia adalah seorang gadis perempuan berusia 17 tahun, seusia saat
ini memang sedang bahagianya merasakan apa itu cinta. Sebuah kata-kata yang
sangat sulit untuk dimengerti , sulit untuk diungkapkan, bentuknya pun hanya
dilukiskan melalui sebuah jambu merah yang sulit juga dipahami.
Begitupun perasaannya kepada Satria , seorang pemuda tampan yang memiliki
segudang hobi, hingga satu detik pun tak sempat ia luangkan untuk kekasihnya. Perasaannya
pada kekasihnya itu juga tak dapat dimengerti , dan tak dapat dijelaskan. Cinta
memang tak butuh pengertian dan penjelasan bukan? cinta hanya membutuhkan
sebuah ketulusan.
“aku selalu sabar buat kamu, Satria” bisik Pipit dalam hati, rasanya hanya
sekedar berucap saja sulit. Apa lagi sampai berlari-lari mengejar Satria yang
saat ini mungkin sedang latihan silat, latihan gitar, dan semua rutinitas
sehari-harinya. Dia sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa memperdulikan
kekasihnya lagi, yang saat ini sedang terbaring lemah dikamar tidurnya.
“minum obatnya dulu sayang!” mamah Pipit menghampirinya sambil membawa
segelas air dan beberapa butir obat yang harus Pipit minum.
“mah…pipit pengen cepet sembuh, biar bisa pergi kedanau sama Satria lagi!”
dia berkata sambil memandang langit-langit menerawang jauh , mengingat semua
kejadian saat Satria selalu meluangkan sedikit waktunya hanya untuk sekedar
memberi senyum pada Pipit.
“iya…mamah yakin, Pipit pasti sembuh” belaian lembut mamahnya sore itu
seakan mengurai semua sakit yang sedang Pipit rasakan dan lenyap begitu saja.
Satu dua tiga hari berlalu, keadaan Pipit semakin parah, hingga akhirnya
dia dilarikan kesebuah rumah sakit terdekat dikotanya. Pipit memang sering
sekali keluar masuk Rumah Sakit 2 tahun belakangan ini. Tetapi dia tak pernah
memberi tahu Satria, dia tak ingin Satria merasakan beban yang dia alami. Pipit
juga tak ingin Satria kasihan padanya.
“maaf, aku kemaren keluar kota, dan disana susah sinyalnya, jadi gak bisa
menghubungi kamu”
Alasann itu yang selalu Pipit berikan untuk kekasihnya itu, padahal
sesungguhnya dia tidak memberi kabar karena tangannya terlalu lemah untuk
memegang handphone. Namun Satria tak pernah menghiraukannya.
Hingga suatu hari saat Pipit dirawat dan tidak memberi kabar, Satria
diam-diam pergi kerumahnya. Semua penghuni rumah Pipit sedang berada di Rumah
Sakit, menemani satu-satunya bidadari kecil yang ada dirumah itu yang saat ini
sedang terbaring lemah dengan selang oksigen dihidungnya.
“maaf buk, mau tanya? Keluarga mbak Pipit pada kemana ya?” Satria
memberanikan diri untuk bertanya pada tetangga sebelah rumah Pipit.
“maaf mas, saya kurang tahu, tapi akhir-akhir ini rumahnya sering kosong”
Satria dapat melihat rumah yang kosong itu dari bunga-bunga didepan rumah
yang layu dan tidak terwat lagi. Dulu saat Satria pergi kerumah Pipit, mamahnya
selalu sibuk merawat bunga-bunga itu. Tetapi saat ini ada bunga yang lebih
penting untuk dirawat dan dijaga ketimbang semua bunga yang ada didepan rumah
Pipit.
Satria mencoba menghubunginya beberapa kali hingga akhirnya terdengar
suara halus yang mulai renta.
“Wa’alaikumsalam
mas Satria, ini mamahnya Pipit, ada apa?” suara mamah Pipit dari seberang sana.
“mah..pipitnya ada ?” Satria yang sudah akrab dengan keluarganya mencoba
menanyakan Pipit.
“Pipitnya lgi istirahat, mas”
“ya sudah bu, titip salam aja buat Pipit” .
Begitu pembicaraan itu ditutup Satria terus bertanya-tanya
apa yang sedang terjadi pada kekasihnya itu. Hingga dia tak sempat memberi
kabar padanya.
“Satria…. boleh gak aku minta satu detik aja waktu kamu !
aku pengen ke danau.” Suara pipit yang masih lemas, langsung dibalas dengan
kemarahan Satria.
“kamu kemana aja kemaren ? aku kerumah kamu, kamu gak ada!
Ak telephone kamu malah mamah kamu yang angkat! Aku gak punya waktu, aku lagi
sibuk !”
Seketika telephone itu terputus, seketika juga air mata
Pipit mengalir dipipinya. Walaupun dia sedang sakit , dia tetap terlihat
cantik, dengan rambut hitam yang panjang, wajahnya yang putih bersih dan
tangannya yang lembut bak seorang permaisuri kerajaan besar. Sungguh betapa
beruntungnya Satria memiliki kekasih secantik itu, sedang diluar sana masih
banyak lelaki yang mendambakan Pipit.
Tetapi hal itu tak pernah dipikirkan Satria.
“Pipit …kenapa menangis sayang?”
“Pipit pengen ke danau mah!” pelukan hangat mamahnya
seketika membuat danau buatan yang terindah melebihi danau yang sering Pipit
kunjungi bersama Satria.
“Pipit kan baru aja sembuh, besok ya sayang,kalau udah
bener-bener sembuh kita kedanau ya sama papah juga dan sama Satria juga.” Pipit
mengangguk dalam pelukan mamahnya.
“tapi mah, Satria udah gakpunya waktu lagi buat Pipit!”
suaranya sedikit terbata-bata.
“ya…nanti pasti ada kok, Pipit harus sabar ya, mungkin
Satria lagi sibuk” . itulah yang selalu menguatkan Pipit, mamahnya yang selalu
mengajarkan arti kesabaran dan ketulusan padanya.
Hingga suatu malam, Pipit tiba-tiba kejang, seluruh
badananya biru dan dingin. Mamah dan Papahnya kebingungan , menangis melihat
bidadari kecilnya seperti itu. Suara sirine ambulance membawa Pipit ke ruang
gawat darurat. Mamah dan Papah Pipit masih mengenakan piyama, tanpa sadar
mereka tidak mengenakan alas kaki. Maklum saja, jam dinding masih menunjukkan
pukul 02.00 dini hari.
“Maaf sekali pak, bu, anak anda tidak bisa tertolong lagi”
kata seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
Mamah dan Papah Pipit tak mampu berkata-kata lagi, suluruh
lorong ruangan itu ikut berduka mengantarka Pipit pulang ke rumah Tuhan.
Seketika lorongan itu juga riuh oleh suara tangisan mamah Pipit yang sangan
menyayat hati. Memanggil-manggil bidadari kecilnya yang kini sudah tak bernyawa
lagi.
Selembar kain putih menututupi muka Pipit yang masih
terlihat cantik, malam itu semua berduka. Mungkin danau yang sering dikunjungi
Pipit sudah berubah menjadi lautan, melihat seseorang yang selalu
mengunjunginya tak akan pernah mengunjunginya lagi. Seakan akan langit juga
terharu melihat kepergian seorang permaisuri cantik yang begitu mulia. Hujan deras,
petir dan kilat turut mengantarnya kembali.
Beberapa bulan kemudian saat Satria sudah tidak bisa menghubunginya
lagi, dia datang kerumah Pipit.
Sore itu , terlihat mamah Pipit sedang sibuk merawat bunga
didepan rumahnya.
“Mah..pipit ada?”
Mamah Pipit yang terkejut dengan kehadiran Satria mendongok
terbengng-bengong.
“duduk dulu sayang…” ajak mamah Pipit.
Rasanya seperti menusukkan pedang kedalam hati, perih dan
sakit. Membuka semua luka yang sudah mulai terpendam.
“Satria, maafkan mamah gak cerita sama kamu, mamah juga
belum sempat memberi tahu kamu, Pipit sudah meninggal 2 bulan yang lalu” tetes
demi tetes air mata mamah Pipit mulai mengalir. Rasanya terlalu pahit melihat bidadarinya
harus pergi secepat itu. Seandainya boleh diwakilkan, maka Mamah Pipit akan
menggantikannya. Pipit terlalu singkat merasakan apa itu arti cinta dan
ketulusan, sedang bagi Mamahnya semua itu sudah tak penting lagi
Satria yang ada didepannya, hanya terdiam , berlari jauh
ingin menemukan kekasih hatinya yang sekarang sudah tak akan lagi dia temukan ,
walau disudut dunia manapun.
“Mah…..” Satria bersimpuh didepan Mamah Pipit yang sedang
terus menegarkan hati menerima semua kenyataan. Satria menggenggam tangan Mamah
Pipit memeluk hangat seorang wanita yang
saat ini kehilngan harta yang peling berharga baginya. Bukan hanya sekedar
bunga yang snagat berharga, tetapi separuh nyawanya.
“Pit…kenapa kamu pergi sebelum aku memberimu satu detik
saja, Tuhan berikan aku satu detik saja, untuk sekedar memeluk dan mencium
keningnya untuk yang terakhir kali”
Air mata yang keluar darinya seakan sudah terlambat, satu
detik itu telah terlewat dan tak pernah kembali lagi.