When Your Face
in My Eyes
By : EL's
“Satria,
you deserb better. Thanks for everything. Kita putus!” kataku setelah membisu
sekian menit.Satria
seperti tak percaya mendengar kata
– kataku barusan.
“Vit, tapi ?” katanya minta
penjelasan.
Aku menggeleng. Pikiranku jauh melayang, apa yang telah aku lakukan ?
“Aku pengen pulang,” kataku.
Di perjalanan pulang kita saling
membisu. Aku sudah
lega akhirnya kata putus berani ku ucapkan.
Sedangkan Satria,
dia hanya diam karena mungkin takme nyangka kalau kalimat
itu akan keluar dari mulutku.
Seperti biasa, Satria mengantarku
sampai ke depan pintu. Tapi kali ini tanpa cium tangan. Satria sebenernya tadi mau melakukan
itu, tapi aku menolaknya.
“Kita udah putus,” jelasku.
Satria Nampak kecewa.
# # #
Satria sangat terpukul sejak
kandasnya hubungan kita. Kata temen – temennya sekarang Satria jadi sensi dan
agak pendiem. Aku merasa
bersalah sebenernya sudah
membuat dia seperti itu, tapi harus gimana lagi.
Perasaanku sudah bukan buat Satria
lagi, melainkan buat Dika. Cowok yang sudah
berhasil merebut hatiku.
Walaupun saat pertama mengenalnya, aku sudah nggak jomblo lagi, tapi rupannya
dia nggak pantang menyerah begitu
saja. Berkat kerja kerasnya, aku
memberikan perasaanku pada Dika. Aku cinta Dika.
Aku berharap dengan berakhirnyanya hubungan dengan Satria,
aku bisa secepatnya jadian sama Dika karena
sebenarnya saat
aku masih bersama
Satria, Dika sudah pernah nenyatakan perasaannya padaaku
# # #
“Kita putus bukan berarti jadi musuh
kan?” kataku saat
Satria duduk
didepanku.
Satria mengangguk setuju. “Berarti
walau pun udah putus, aku tetep boleh main kesini kan?”
“Pintu rumah ku
bakalan selalu terbuka buat kamu,”
hiburku.
Kalau mau jujur sebenarnya aku masih
ada rasa sama Satria, tapi itu hanya
sedikit dan selebihnya
buat Dika. Mejalani hari
– hari bersama Satria selama Sembilan
bulan lebih tiga minggu cukup bagiku.
“Aku perhatiin kamu akhir – akhir ini jadi pendiem deh.”
“Aku masih sayang sama kamu Vit,” potong Satria
cepat.
Huhhh….. aku mengambil nafas panjang. Aku
udah nyakitin perasaan orang lain. Orang yang sayang banget sama aku.
“Aku juga sebenernya masih sayang
banget sama kamu, tapi untuk saat ini aku pengen sendiri dulu,” dustaku.
Satria diam.
“Satria di luar sana, ku rasa masih banyak
cewek yang lebih dari aku. Kamu jangan kayak gini lagi ya?” mohonku.
Pelan – pelan kepala Satria
mengangguk. “Tapi, kamu masih jadi temen aku kan?”
“Pasti,” jawabku pendek.
# # #
Aku berjalan sambil sesekali kakiku
menendang batu – batu kecil yang terhampar di jalanan berbatu menuju rumahku.
Aku membayangkan anadai batu – batu itu adalah mukanya Dika. Benci banget aku
sama dia.
Aku menggelengkan kepalaku dengan keras.
“Nggak!!” jeritku. Sedih
sekali bila aku meninggat
saat – saat sebelum aku dan Dika jadian.
Siapa yang nyangka bahwa semua yang
ada di mulutnya adalah bohong belaka. Sakiiitt banget bila ingat itu. Setelah
putus sama Satria aku berharap segera jadian sama Dika dan menjalani hari – hariku dengan dia , tapi
kenyataanya????? NOPE!! Dika justru menjauh setelah aku mengibarkan bendera
jomblo.
Dan
hari ini Clara ngomong sama aku katanya Dika selama ini cuman nyenengin aku.
Sulit
sebenarnya harus menerima kenyataan ini, tapi mau gimana lagi? Aku udah
dimainin sama Dika. Aku nggak hanya
kehilangan Dika, tapi juga Satria, orang yang sebenarnya masih aku sayang,
namun terpaksa aku memutuskannya demi Dika yang ternyata selama ini cuma mau mempermainkanku.
Aaaah, aku tiba – tiba jadi merasa
kangen sama Satria. Sama kasih sayang dan cintanya yang tulus buat aku.
I still loving you Satria………..
# # #
Sore ini aku udah dandan dan hmm…
wangi tentunya. Satria akan ke rumahku buat ngembaliin buku catatanku.
Aku mendengar bel pintu depan di
pencet oleh seseorang. Setelah mereview penampilanku di cermin,
aku membuka pintu.
“Sss..Satria…”ucapku
terbata. Aku yang tadinya riang menjadi
agak terkejut.
“Vita, kenalin ….. ini Dizka, cewek aku,”
tutur Satria.
Aku memandang cewek di samping Satria
lalu senyum kepadanya. Senyum di paksakan tepatnya. Aku mempersilahkan mereka
masuk dengan hati hancur. Satria ku udah jadi milik orang lain.
Aku hanya menunduk terdiam saat
mereka duduk di depanku, oh Tuhan,
inikan balasan untukku yang telah menyia-nyiakan Satria. Padahal aku tahu bahwa
Satria sangat menyayangiku. Inikah balasan untukku yang hanya mengejar sinar
yang berkilauan tanpa ku tahu bahwa itu hanya semu. Aku tak bisa membendung air
mataku. Aku berpamitan dengan mereka berdua.
“aku
kebelakang dulu ya” aku menyela mereka berdua.
Seketika
aku berlari ke kamarku dan ku keluarkan semua tangisanku yang sejenak ku tahan.
Aku tak mau berfikir apa yang sedang mereka lakukan. Yang ada di fikiranku aku
sangatlah bodoh.
Tiba-tiba
ada sesosok tangan yang membelai kepalaku.
“kamu kenapa Vit ?” aku sangat mengenal suara itu.
“Satria
? kamu ngapain disini ? e..ee...e.. aku nggak kenapa-kenapa kok, tadi mataku
kena debu aja” aku sangat terkejut, aku berusaha menutupi semuanya. Aku tak
ingin Satria tahu, lebih-lebih disampingnya sudah ada wanita yang saat ini
menjadi kekasih Satria.
“Kamu
gak perlu bohong sama aku, aku udah tahu semua, aku tahu dari temen-temen kamu,
dari Dika juga, dan mamah kamu yang tiap malam telephone aku , marah-marah udah
bikin kamu nangis malam-malam”. Satria memberi penjelasans sambil menggenggam
tanganku.
“tapi
??? sekarang?? Kamu ??” aku masih terus menahan air mataku.
“maafin
aku ya Vit, itu kakak sepupu aku, aku sengaja kayak gini , karena aku pengen
tahu apakah kamu masih sayang sama aku atau gak?”
Aku
tak mampu berkata-kata , tangiskupun semakin menjadi jadi. Pelukan Satria
membuatku tak akan pernah lagi meninggalkannya.
“Maafin aku!” kataku lirih.
“Iya, aku selalu sayang sama kamu Vit” .