Candle Light
Dinner
By : EL's
“Sa, pleaseee…. Jangan putusin gue. Gue
masih sayang sama lo Sa…,” mohon Candra.
Aku diam.
“Kesa….” Candra mengelus rambutku.
“Tapi….”
Candra buru – buru memotong kata – kataku.
“Sa, gue tuh masih sayang sama lo,” Candra mencoba meyakinkanku. Dia lalu
mencium keningku. “Kamu mau kan maafin aku?” tanyanya penuh harap.
Aku pun akhirnya mengangguk dengan terpaksa.
Sangat terpaksa.
Jujur sebenernya aku tuh udah bosen sama
Candra. Sifatnya kadang childish banget. Males banget kan punya cowok kayak
gitu. Dan kita tuh nggak nyambung. Nggak ada kecocokan di antara kita.
# # #
Sehari setelah peristiwa itu kita ngejalanin
hari – hari seperti biasannya. Kita kayak nganggap peristiwa malam itu nggak
pernah terjadi.
Hari ini aku sama Candra rencananya mau
hangout.
Setelah lelah muter – muter kita lalu duduk
di jalanan sekitar Taman Kota yang suasananya lumayan nyaman. Tempatnya rindang
dan not bad deh.
Di
situ kita curhat – curhatan dan saling cerita tentang apa aja. Hari ini aku
seneng banget. Semuanya karena Candra.
# # #
“Sa, aku pengen ngomong something.”
“Ngomong apaan sih?” tanyaku keki, aku baru
aja bangun dari tidur siang.
Dengan mata masih keliatan ngantuk aku
akhirnya menemui Candra dengan setengah hati. Tadi bunda membangunkan tidur
siangku dengan paksa dan tiba – tiba aja aku di suruh nemuin Candra yang udah
duduk manis di sofa ruang tamu.
“Sa, jalan yuk. Aku pengen ngomong sama
kamu.”
“Ngomong ya ngomong aja. Emang dari tadi
kamu nggak ngomong?”
“Bukan gitu Sa maksudnya. Aku mau kita
ngobrol di luar. Lagian ini kan malam minggu,” rayunya.
“Iya…iya. Bawel lo!” tukaskusaat ngeliat
Candra udah mau ngomong lagi.
# # #
45 menit udah berlalu, sekarang aku sama
Candra sedang ada di sebuah Café yang romantiiiis banget. Cahaya di café
tersebut nggak begitu terang. Di meja terdapat beberapa lilin. Semacam Candle
light dinner gitu deh. Cewek mana coba yang nggak seneng diajakin cowoknya
candle light dinner??
Sebelum memulai bicara, Candra memegang
tanganku dan menggenggamnya.
“Kesa, maafin aku ya?”
Maaf?? Aku bingung deh. Kata maaf bagiku
untuk saat ini kayaknya nggak tepat. Aku malah lagi berbunga – bunga karena
malam minggu ini di ajak candle light dinner.
Ini adalah candle light dinner ke-2 buat aku
sama Candra. Candle light dinner pertama waktu dia nembak aku, sebulan yang
lalu.
Yups! Usia pacaran kita udah sebulan. Kalau
mau jujur sebenarnya dalam sebulan itu masa – masa pacaran kita di warnai
dengan kata ‘putus – nyambung’. Dan tak jarang juga setelah aku gucapin kata
putus, beberapa jam sesudahnya Candra memohon – mohon ngajak balik.
Karena aku kasihan sama dia dan kayaknya
Candra emang masih sayang sama aku, aku pun nerima dia balik. Perbedaan
pendapat sering menjadi penyebab konflik di antara kita.
“Sa, kayaknya aku nggak bisa ngelanjutin
hubungan kita.”
Aku mendongakkan keplaku yang sedari tadi
menunduk. Aku bengong. Aku bingung.
“Sa, kita……” Candra keliatan bingung buat
merangkai kata – kata.
Aku buru – buru menarik tanganku dari
genggaman tangan Candra. Aku udah tahu maksud dari kata – katanya.
Air mataku meleleh satu persatu sebelum
kemudian mengalir dengan derasnya.
Candra menghapus air mataku dengan ibu
jarinya, tapi aku dengan cepat menepis tangannya.
“Sa…”
“Aku pengen pulang,” kataku di sela isak
tangis. Suaraku terdengar parau.
# # #
Dalam perjalanan pulang di mobil kita saling
diam. Yang terdengar hanya isak tangisku yang makin lama makin keras.
Aku nggak nyangka Candra tega sama aku.
Belum ada seminggu dia merengek – rengek minta balik. Tapi, malam ini… aku
telah menangis di buatnya.
Yang lebih menyedihkan, Candra mutusin aku
saat kita Candle light dinner. Aku baru ngerti, ternyata candle light dinner
nggak melulu romantis dan nggak seromantis apa yang di bayangkan orang
kebanyakan.
Aarrgghh!!!!
Aku pengen teriak! Aku pengen marah!
Begitu mobil Candra berhenti di depan
rumahku, aku segera turun dan membanting pintu mobil kemudian berlari masuk
kamar.
No comments:
Post a Comment